Dia adalah penipu paling mahir di dunia,
setiap pagi disarungnya topeng bahagia,
diukirnya lengkung di bibir,
sehalus bianglala selepas ribut.
Orang melihat matanya bersinar,
tanpa tahu itu adalah pantulan air mata yang tidak sempat tumpah.
Bahunya memikul gunung,
kakinya memijak bara,
namun bila disapa, dia menjawab:
“Aku baik-baik saja,”
sedangkan di dalam dadanya,
ada sebuah kota yang sedang runtuh.. tanpa suara.

Jom baca puisi yg lainnya di puisi nemlogue.com








Leave a Reply